Arsip untuk Ujian Nasional

Pejabat Jangan Usik Siswa

Siswa Butuh Konsentrasi Hadapi UN

Pelajar Korban Situ Gintung Bingung

Pejabat Jangan Usik SiswaBATAM, TRIBUN - Pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMA/MA/SMK tahun ini butuh konsentrasi maksimal dari para siswa terutama dalam mengerjakan soal. Segala bentuk gangguan sekecil apa pun diharapkan tidak terjadi seperti kunjungan pejabat ke dalam ruang ujian.

Kepala Seksi (Kasi) Kurikulum Dinas Pendidikan Batam, PL Tobing, menjelaskan siswa bukan hanya butuh ketenangan untuk konsentrasi, tetapi butuh ketelitian dalam mengisi lembar jawaban komputer (LJK). Salah membulati saja, LJK bisa tidak terbaca oleh komputer sehingga merugikan siswa.

“Kami juga minta kepada pejabat yang akan meninjau pelaksanaan UN tidak masuk ke ruangan. Hal itu bisa mengganggu konsentrasi siswa mengerjakan soal. Kalau meninjau dari luar saja. Kami hanya memperbolehkan melihat dari jendela atau pintu,” tegasnya.

Beberapa sekolah mengaku siap mengikuti UN, pasalnya enam bulan sebelumnya, secara total sekolah di Batam sudah melakukan kegiatan pemantapan dan try out untuk para siswa kelas 3.

Tengku Juliana misalnya, siswi kelas II IPA ini mengaku sangat deg-degan menghadapi Ujian Nasional yang dimulai Senin (20/4). Namun, gadis berwajah manis ini tetap optimis ia tetap dapat menyelesaikan ujian tersebut. “Wah, deg-degan, Mas. Tapi aku coba agak santai, yang pasti belajar mati-matian lah,” ungkapnya kepada Tribun, Sabtu (18/4).

Yang menjadi kekhawatirannya, standar kelulusan nilai tahun ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya, naik menjadi 5,50. “Agak khawatir lah, soalnya, nilainya UN sekarang ini lebih tinggi. Kalau aku sih, lebih konsen dan fokus ke pelajaran exact seperti Matematika, Fisika dan Biologi,” ujarnya seraya menambahkan biasanya nilai rata-rata siswa selalu jatuh pada mata pelajaran exact.

Hal serupa dirasakan siswa kelas 12 IPS I Danar Donianto, dirinya merasa agak khawatir karena nilai kelulusan menjadi lebih tinggi tahun ini. “Yang agak deg-degan lah. Tapi aku udah nyiapin diri  jauh-jauh hari. Jadi, saat terakhir ini, aku tinggal mengulang pelajaran saja,” terang Danar yang merasa sangat terbantu dengan dukungan dari orangtuanya.

Saat ditemui, Kepala Sekolah MAN Batuaji mengaku segala usaha telah dilakukan untuk memberi kesiapan ilmu dan mental para siswanya agar lebih siap menempuh UN. “Kalau kemarin bisa lulus 100 persen, tentu tahun ini menjadi tantangan bagi kita untuk mempertahankannya. Untuk itu, kami sudah memulai melakukan persiapan sejak para siswa masih duduk dikelas 12,” kata ibu guru berjilbab ini.

Ia mengaku tidak terlalu khawatir dengan standar kenaikan nilai UN. “Hal ini wajar-wajar saja. saya yakin, mungkin dengan ini pemerintah punya cara khusus untuk meningkatkan mutu dunia pendidikan di Indonesia,” ucapnya

Sedang Kepala Sekolah SMK Al Jabar Batam Refio mengatakan, dirinya beserta para guru telah memberikan berbagai cara untuk menyiapkan siswanya agar dapat menyelesaikan UN dengan baik. “Sejak enam bulan lalu, kami sudah memberikan siswa dengan program pemantapan. Setelah itu, untuk melihat hasilnya, biasanya kami lanjutkan dengan try out,” jelasnya.

Refio optimis, jika tahun lalu siswanya mampu lulus 90 persen, di UN kali ini ia menargetkan kelulusan 100 persen. Dari hasil try out yang sudah berjalan, kata dia, dirinya melihat hasil yang didapat sudah cukup baik. Namun ia juga tidak memungkiri, memang ada satu dua orang siswa yang masih memiliki rekord nilai yang masih di bawah rata-rata.

“Memang sih, semuanya tergantung dari siswa. Yang pasti kami sudah memberikan pembekalan, agar mereka lebih siap,” ujarnya berharap para siswanya dapat mengerjakan soal UN dengan baik.

Kepala Sekolah SMAN 12 Sumbardianto mengaku telah menyiapkan siswanya untuk mengikuti Ujian Nasional. Ia berharap agar peran orangtua untuk membantu baik mengawasi dan mendorong anaknya belajar di rumah. “Di sini, peran orangtua sangat penting,” ungkapnya.

Saat ditanya, bagaimana hasil try out siswa. Kepala Sekolah Darullfalah M Sholeh mengaku bahwa hasil try out bisa memberikan gambaran bagaimana kesiapan anak-anak dalam menghadapi UN. Namun kata dia, semua bisa berubah, sebab pada try out, para siswa biasanya belajar tidak seserius saat menghadapi UN. “Bisa saja hasil yang didapat berbeda dengan UN nanti. Insyaallah, saya berharap tahun ini kami bisa lulus 100 persen,” jelasnya optimis.

Korban Situ Gintung
Adanya kenaikan standar kelulusan Ujian Nasional (UN) 2009 juga membuat sejumlah siswa kelas 3 SMA korban musibah air bah Situ Gintung, Tangerang, beberapa waktu lalu bingung. Iryadi (17) misalnya, dan kelima temannya mengaku tak bisa berkonsentrasi ketika belajar. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk mengikuti program bimbingan belajar selama satu minggu  yang dilaksanakan Departemen Pendidikan Nasional, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan sebuah bank swasta.

Selain masih merasa syok, mereka merasa berat kala teringat standar kelulusan mencapai 5,50. “Berat. Siapa sih yang mau kena bencana kedua kalinya? Satu, kena bencana di sini (Situ Gintung). Kedua, kita nggak lulus. Ya, mungkin nggak ada yang mau. Saya dan teman-teman korban Situ Gintung berharap dapat dispensasi, lebih dipermudah untuk lulus. Itu saja,” ujar Iryadi, siswa SMA 2 Mei Jakarta, Minggu (19/4).

Iryadi untuk sementara menempati hunian sementara (huntara) di Jalan Situ Gintung II,  Cireunde, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten. Bangunan huntara itu terbuat dari batako dan triplek. Pada bagian atap dipasang  metal ringan.

“Bukan tidak bersyukur. Tapi, bisa dilihat sendiri kan kondisi di tempat sementara seperti ini. Saya sendiri nggak bisa belajar. Bingung. Namun kami sangat terbantu juga ada program bimbingan belajar dari Diknas selama seminggu dan baru selesai hari ini (Minggu, 19/4),” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Begitu juga dengan Lia  (15), Vika (14), dan Indah (15). Ketiganya siswi kelas 3 SMP Mabad Jakarta. Mereka hanya saling pandang saat ditanya tentang persiapan UN yang akan dilaksanakan pada 27-30 April mendatang.

“Bingung. Mau bilang apa. Dibilang siap, siap apanya. Saya nggak kepikiran apa-apa. Ya bingung aja. Masih syok,” ujar Lia sambil tertunduk.

“Saya sih masih kebayang-bayang. Susah hilangnya. Di sini (huntara), boro-boro bisa belajar. Suka kaget-kaget gitu. Ya masih mending lah kalau ikut bimbingan belajar atau sekolah, jadi bisa konsentrasi pada pelajaran,” tutur Vika. Tiga pelajar SMP itu juga ingin mendapat dispensasi. (hat/hdr/persda network/dicky)

Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.