Adi Bergulat dengan Panas dan Debu
SAKING gesitnya, mereka tak menyadari terik matahari. Peluh bercucuran pun diabaikan. Apalagi kulit yang makin legam. Sambil menenteng koran, mereka hampir setiap hari berlomba menarik minat pengendara yang melintas.
Namun ironisnya, setiap pengendara jalan yang melintas tampak acuh tak acuh hingga terkesan tak mau melirik ke arah anak-anak ini.
Kendati demikian, bocah-bocah berparas lugu ini tetap saja menghampiri dan menawarkan tumpukan korannya. Dari sekian banyak antrean kendaraan ada yang membeli satu saja.
Adi Irwansyah Putra, satu di antara sekian penjaja koran. Setiap hari Adi harus mengeluarkan peluh, berlari menjajakan koran. Menit demi menit, bahkan hingga setengah jam berlalu, baru ada satu pembeli saja yang tertarik membeli korannya. Tapi, jika keberuntungan berpihak kepadanya, dalam lima menit ia mampu menjual 2-3 buah koran.
Tubuh kurus dan kulit hitam serta rasa lapar yang mendera terasa terlupakan. Demikian juga tekstur rambutnya yang terlihat begitu kusam dengan tampilan pakaian apa adanya. Tapi, semangat yang ia tunjukkan patut ditauladani siapa saja.
“Siapa sih, Om yang mau jual koran. Kalau bisa kan jam segini belajar di rumah, kumpul sama mamak dan bapak, bisa main lagi sama kawan-kawan. Jualan capek lagi,” jelas bocah pasangan Zakaria dan Jojor Silabon ini agak terengah-engah.
Lebih dua tahun profesi ini ia jalani. Setiap harinya ia harus membantu menopang keluarga. Namun tak ada sedikit pun perasaan gengsi yang dirasakannya.
Setiap pulang sekolah mulai pukul 13.00 WIB ia mulai berjualan koran. Waktu yang seharusnya ia manfaatkan untuk bermain dan belajar, harus rela ia sita untuk menjual koran hingga magrib. Malah, ketika hari libur (Minggu), ia mulai menjual koran mulai pagi hari hingga malam.
Tepat pukul 17.00 WIB, setelah lelah berjualan, Adi kemudian melangkahkan kakinya pulang ke rumah kosnya di perumahan ruli Orchid, Batam Centre, untuk kembali berkumpul bersama kedua orangtuanya. Setiba di rumah, biasanya ia langsung mandi dan dilanjutkan dengan menyantap lahap makanan alakadar yang dibuat oleh sang ibu. Begitu hebat dan semangatnya, tepat pukul 19.00 WIB ia pun memutuskan untuk kembali keluar.
Kemana? Ternyata Adi pergi mengambil orderan koran untuk dijual keesokan harinya, Adi harus stanby di kantor percetakan surat kabar tersebut mulai pukul 19.30 WIB. Tak kurang 30 koran setiap malamnya ia ambil. Luar biasa, untuk ukuran anak seusianya yang kini menginjak usia 12 tahun, ia terus berusaha mencari uang.
“Pas jam 8 malam aku udah sampai di simpang Kara, Om. Aku nyambung lagi jualnya, laku beberapa buahkan lumayan Om, jadi besoknya aku nggak terlalu capek-capek lagi jualin sisanya,” katanya yang mengakhiri petualangan sebagai loper koran hingga pukul 22.00 WIB.
Adi yang terlahir dari keluarga kurang beruntung ini cukup puas dengan pendapatan menjadi seorang loper. Setiap satu yang terjual, Adi mendapatkan keuntungan Rp 450. “Aku ambil 30 koran setiap harinya. Jadi kalau habis kejual, ya dapat lah Rp 13.500,” ujarnya.
Uang itu diberikan semuanya kepada sang ibu. Dari hasil itu, Adi lantas diberikan sebesar Rp 2 ribu untuk bekal di sekolah. Saat ini, bocah kelahiran 30 Januari 1996 ini duduk di bangku kelas 6 di SDN 001 simpang Kuda, Sei Panas.
Adi termasuk anak yang berprestasi. Dari awal masuk sekolah hingga sekarang, ia kerap menyabet rangking pertama di kelasnya. “Pernah juga si Om, aku nggak dapat juara. Aku cuma masuk 5 atau 10 besar aja,” terang Adi yang juga mengaku agak susah mengatur jadwal belajarnya.
Biasanya, diceritakan Adi, usai pulang ke rumah sekitar pukul 22.00 WIB, ia langsung belajar dan mengerjakan semua tugas sekolah. “Kalau belajar aku selalu malam, habis siang harus jual koran. Mulai dari jam 10 malam sampai aku ngantuk dan tertidur,” jelasnya dengan nada semangat.
Ironisnya, ternyata Adi tak kerja sendiri, Agus adik kandungnya juga ikut mengais rezeki sebagai penjual koran di Simpang Kara. Kendati hanya sampai pukul 17.00 WIB saja, namun Adi menaruh rasa kasihan terhadap Adiknya. “Kadang aku nggak sampai hati. Tapi gimana lagi Om, kami kan juga harus bayar uang sekolah bantu mamak dan bapak,” kata Adi menjelasakn adiknya sekarang duduk di bangku kelas 4 yang juga satu sekolah dengannya.
Adi yang bercita-cita ingin menjadi tentara menjawab dengan gamblang saat ditanya mau nggak kalau minta-minta dijalan daripada menjual korankan. “Minta-minta, nggak lah. Itu kan sama aja ngambil uang orang. Itu haram. Malunya pun setengah mati. Kan aku masih sehat,” ujarnya.
Di Batam, masih banyak Adi-Adi yang lain. Mereka harus berjuang melawan ganasnya hidup. Bukan hanya risiko tertabrak kendaraan, mereka juga beresiko menjadi korban kejahatan jalanan.(hendrayudha)