Putuskan Listrik ke Hotel dan Mal
BATAM, TRIBUN - Free Trade Zone (FTZ) yang lama ditunggu-tunggu sudah berlaku dan tahun ini merupakan persiapan Visit Batam 2010. Tiba-tiba muncul persoalan sangat serius menghadang dua program tersebut. PT Pelayanan Listrik Nasional (PLN) Batam memutus aliran listrik ke hotel dan pusat-pusat perbelanjaan sejak pukul 00.00 WIB, Kamis (12/3).
Spontan 21 pelanggan bisnis yang aliran listriknya diputus jadi gelap gulita. Sejumlah pengunjung Hotel Novotel marah-marah dan melontarkan komplain. Puluhan tamu memilih check out lebih cepat dari hotel di kawasan Jodoh itu.
Beberapa tamu mengaku tidak nyaman karena air conditioner (AC) di hotel itu tidak berfungsi sehingga mereka kegerahan. Lift juga tak berfungsi sehingga para tamu harus melewati tangga biasa.
Anto, Executive Assistan Manager Hotel Novotel, membenarkan kondisi itu. Pihaknya memang sengaja mengurangi beberapa fasilitas karena aliran listrik hanya mengandalkan genset yang kapasitasnya sangat terbatas. Anto harus berdiri di lobi hotel untuk meminta maaf langsung kepada setiap tamu yang terpaksa meninggalkan hotel itu.
Kondisi serupa terjadi di I Hotel, Hotel Formosa, Hotel Pura Jaya, DC Mall, Mega Mall, Nagoya Hill, BCS Mall, dan sebagainya.
Pengelola DC Mall, Jodoh terpaksa menghidupkan 5 genset dan menghabiskan Rp 50 juta per jam untuk bahan bakar dan biaya operasional. “Bayangin saja Pak, kami harus mengeluarkan 1.000 liter lebih per jam. Padahal harga solar saat ini Rp 4.500 per liter,”kata Pieter Ngun, Manajer DC Mall.
Mega Mall Batam Centre juga menggunakan genset. Seorang penyewa tenant di mal itu mengaku risau manajemen mal menaikkan harga sewa karena pasti biaya operasional membengkak bila menggunakan genset.
Para penyewa tenant di BCS Mall, Penuin, juga mengeluh lantaran udara di dalam mal itu terasa panas. Sarmono, Manager Promosi BCS Mall mengaku genset dihidupkan sejak pagi. GM BCS Mall, Eddy Susanto menolak berkomentar.
Lapor polisi
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesua (PHRI) Batam Sigit Budiarso meradang. Menurutnya, pemutusan aliran listrik pasti berdampak buruk terhadap perekonomian Batam.
“Pemutusan ini dilakukan secara sengaja oleh pihak PLN tanpa mempertimbangkannya kembali. Kalau PLN seperti ini, hotel dan mal bakal hancur-hancuran,”ujar Sigit berapi-api, usai pertemuan para pengusaha hotel dan mal di di Hotel Novotel, kemarin.
Menurutnya, genset hanya bisa bertahan 12-24 jam. “Setelah digunakan, genset harus diistirahatkan beberapa jam. Dalam kondisi itu, tempat itu tidak akan tersuplai listrik,” jelas Sigit dengan nada sedikit emosi
Pengembang perumahan juga mengeluh karena banyak rumah sudah akad kredit tapi belum dialiri listrik. “Desakan konsumen bertubi-tubi. Kami sudah kehabisan argumentasi untuk menjelaskan masalah ini kepada konsumen. Kami berharap PT PLN segera mencari solusinya,” kata Arnold Hujogo, dari PT Siriaon Regency Tiban, kemarin.
Padahal, kata Arnold, pihaknya sudah menyetor Biaya Penyambungan Uang Jaminan Pelanggan (BPUJL)sebesar Rp 148.383.700 untuk penyambungan listrik ke 191 unit rumah.
Wakil Ketua Umum Kadin Kepri Jadi Rajagukguk mengatakan, bila pertemuan pengusaha, PLN, dan DPRD tidak membuahkan jalan keluar, pengusaha akan nginap di Gedung DPRD. “Kami akan menginap di DPRD, biar semua tahu kearoganan PLN Batam,”ujarnya.
Sekitar pukul 18.00, Kamis (12/3), 23 perwakilan hotel dan mal di Batam melaporkan PT PLN Batam ke Poltabes Barelang. PLN dianggap melakukan perbuatan tidak menyenangkan karena memutus aliran listrik tanpa pemberitahuan dan tidak menunjukkan identitas saat melakukan pemutusan.
Kuasa Hukum PHRI Batam, Ampuan Situmeang SH, mendampingi para pelapor. Laporan diterima oleh KSPK Poltabes Barelang Ipda Khoiril Akbar.
PLN bergeming
Kalangan pengusaha bertemu dengan manajemen PLN di kantor DPRD Batam, difasilitasi Wakil Ketua DPRD Batam, Aris Hardi Halim, Kamis malam. Direktur Utama PT PLN Batam, Zainuddin, hadir dalam pertemuan itu.
Kata Aris, Dewan sudah mengirim surat kepada PLN, meminta agar tidak memutus aliran listrik ke pelanggan bisnis. Surat itu sudah diterima Zainuddin. Namun, kata Zainuddin, pihaknya tidak akan menyalurkan listrik bila tidak ada jaminan dari pemerintah terkait cash flow. Sebab, utang PLN ke PGN telah mencapai Rp 78 miliar!
“Kami memadamkan listrik itu untuk mengurangi pemakaian gas, sehingga utang kami ke PGN tidak terus membengkak. Sudah tiga bulan delay pembayaran ke PGN. Kalau kami tidak membayar, bisa-bisa gas tidak dipasok lagi. Terus terang, kondisi keuangan kami saat ini tidak stabil,”Zainuddin.
Ketua PHRI Batam, Sigit Budiarto mengatakan pengusaha tak sanggup membayar listrik dengan tarif baru sebagaimana diatur dalam Permen ESDM No 33/2008. Sebab, kenaikan tarif listrik untuk sektor hotel mencapai 43 persen dan mal mencapai 51 persen. “Kalau itu kami bayar, berarti menyetujui kenaikan tarif sesuai Permen tersebut,”tukasnya.
Yohanes, Anggota Komisi II DPRD Batam mengatakan, berdasar hasil kajian Komisi III , kenaikan 11,3 persen sudah break event point (BEP). Kenaikan 11,5 persen sudah ada keuntungan sekitar Rp 2,5 M, dan kenaikan 11,7 persen keuntungannya lebih tinggi lagi. “Saya heran kenapa PLN merugi tapi membebankan ke masyarakat. Apa tidak ada upaya dengan menyampaikan ke komisarisnya dan menggadaikan asetnya untuk meminjam uang. Jangan selalu membebani ke masyarakat,”tukas Yohanes.
Kuasa Hukum Pengusaha, Ampuan Situmeang mengatakan, peraturan itu diskriminatif. “Aturan yang diskriminatif batal demi hukum. Saat ini juga Dirjen ESDM mengatakan Permen itu masih bisa diubah karena itu dibuat tidak sesuai dengan kondisi saat ini,”ujar Ampuan.
Dia menuding PLN tidak memiliki itikad baik. Tapi juga mendesak Pemko Batam untuk menalangi kesulitan cash flow yang dihadapi PLN, karena kondisi saat ini termasuk darurat.
Kadisperindag Batam Ahmad Hijazi mengatakan, PLN bukan BUMD sehingga Pemko Batam tidak bisa menalangi. Sebab, itu tidak dianggarkan dalam APBD. Hal senada disampaikan Aris Hardi Halim.
Kata dia, PLN Batam itu perusahaan swasta yang sifatnya profit oriented. Pertemuan pengusaha dan PLN rencananya akan dilanjutkan hari ini pukul 10.00 WIB.(ian/hat/hdr/rnd/ded)