Hindari Jantung Koroner sejak Dini
TAHUKAH Anda penyakit yang paling mematikan di berbagai negara? Menurut data medis, penyakit jantung koroner dan dan stroke merupakan penyakit yang paling sering menjadi penyebab kematian. Dalam istilah medis, keduanya termasuk penyakit kelainan kardioserebrovaskular.
Yang paling mengejutkan lebih 80 persen penderita penyakit mematikan ini berasal dari negara berkembang seperti Indonesia. Di tanah air, penyakit ini merupakan pembunuh nomor satu selain penyakit infeksi.
Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar IDI Dr dr Fahmi Idris Mkes saat menggelar 9th National Braim dan Heart Symposium di Planet Holiday Hotel, Batam, Kamis (26/3).
Menurut Fahmi, besarnya angka penderita penyakit ini harus segera ditekan dengan melaksanakan sosialisasi tentang segala permasalahan yang terkait dengan jantung koroner dan stroke. “Di simposium ini, kami mencoba mensosialisasikan betapa bahayanya penyakit ini dengan mengembangkan lagi disiplin untuk seluruh dokter kardiologi, penyakit dalam dan umum,” jelasnya.
Dalam simposium 9th yang juga langsung dipayungi oleh IDI ini, Fahmi menyampaikan, saat ini fakta sudah bergeser. Jika dulu hingga 70 persen penyakit mematikan adalah penyakit menular, tetapi sekarang penyakti tidak menular seperti hipertensi dan strokelah yang mematikan.
“Di sinilah kami mencoba mencari solusi untuk menekan munculnya penyakit ini. Disamping adanya berbagai pengobatan dengan teknologi baru, namun semua ini tetap harus menjadi perhatian bagi kita. Jadi tak sekedar mengobati, tetapi ada pemikiran-pemikiran baru untuk mengatasinya,” terangnya.
Prof DR Jahja Kisjanto SpPD KKV PhD, FACC yang juga mantan ketua PB Ikatan Keseminatan Kardioserebrovaskuler Indonesia (IKKI) mengatakan, untuk menghindari penyakit ini sebelumnya harus dilihat dari faktor risikonya. Di antaranya adalah merokok, kolesterol, hipertensi, dan diabetes.
“Mau tidak mau, ya kita mesti menghindari rokok, rata-rata para perokok akan sangat rentan mengidap penyakit ini. Perhatikan pola makanan, kurangi makanan yang mengandung kolesterol, termasuk juga fetsin.
Usahakan selalu banyak makan buah-buahan dan sayuran. Karena di dalamnya terkandung sumber vitamin dan antioksidan yang tinggi. Karena makanan ini mampu mencegah datangnya penyakit mematikan ini,” ucapnya.
Ditambahkan Prof dr Lukman Hakim Makmun SpPD KKV KGer, sebenarnya cara terbaik untuk menghindarinya adalah dengan melakukan pencegahan sedini mungkin. Mulai dari bayi yang berada dari kandungan. Perhatikan kondisi bayi di rahim, apakah berat badan rendah. Perlu diperhatikan, bayi yang lahir dengan berat badan rendah sangat rentan mengidap hipertensi.
Di Indonesia sendiri, kata Lukman, 20 persen bayi yang lahir dengan berat badan rendah. “Untuk melahirkan bayi yang sehat, seorang ibu harus memperhatikan kesehatannya. “Saat kondisi hamil, nitrisi yang cukup penting bagi si bayi. Demikian juga saat lahir bayi sebaiknya diberi ASI,” ujar Lukman.
Dipaparkannya, bayi yang tidak mendapatkan konsumsi ASI biasanya sangat rentan mengidap hipertensi. “Hal ini dapat dicegah sejak dini dengan memberikan bayi ASI. Karena segala vitamin dan nuntrisi sudah tersedia di dalamnya. Satu hal yang perlu diperhatikan, kebanyakan para orangtua lebih senang melihat bayi gemuk (obesitas). Mungkin karena lebih terlihat lucu. Padahal sebaliknya, obesitas merupakan satu diantara faktor resiko penyakit ini,” pungkasnya.
Saat disinggung, mengapa banyak pasien yang berobat ke luar negeri. Fahmi menjelaskan, dari fakta yang ada lebih dari 200 ribu pasien yang berobat ke luar negeri. “Banyaknya orang Indonesia yang berobat bukan karena kemampuan dokter kita tidak baik. Kalau soal profesional sih, boleh di adu,” ujar Fahmi yang mengklaim tenaga medis di Indonesia malah lebih berkompeten.
Hadir sebagai pembicara di acara tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar IDI Dr dr Fahmi Idris Mkes, Prof DR Jahja Kisjanto Lukman Hakim Makmun SpPD KKV PhD FACC, Prof dr Lukman Hakim Makmun SpPD KKV KGer, Pengurus Besar IKKI Dr Sukman Tulus Putra SpA(K) FACC FESC, Ketua IDI wilayah Kepri Dr Nezelly Husnedy MARS, Sekretaris DAPPI Kepri Dr Dindin H Nadim SpDD, Dr Juwanto SpPD KKV.(hdr)