Imigran Afganistan Menyusup Jelang Pemilu
Tujuan Jakarta Tertangkap di Sekupang
BATAM, TRIBUN-Sebanyak 27 imigran gelap asal Afganistan gagal masuk Jakarta setelah ditangkap di Pelabuhan Beton, Sekupang, Batam, Rabu (8/4). Mereka masuk ke Batam secara ilegal dan sempat ditampung selama dua hari oleh warga.
Penangkapan hanya sehari menjelang pelaksanaan Pemilu legislatif, Kamis (9/4). Perhatian petugas keamanan dan warga juga sedang terpusat pada pelaksanaan pemilu.
Aparat Kesatuan Penga-manan Laut dan Pantai (KPLP) Sekupang berhasil menangkap sesaat akan naik ke dek 5 KM Kelud. Para imigran itu tidak melalui pintu masuk pelabuhan melainkan naik speed boat. Sedangkan warga yang membawa speed boat berhasil kabur.
“Semula hanya satu orang menjawab pertanyaan kita. Karena yang lain tidak bisa berbahasa Inggirs, tapi begitu sampai ke masalah pasport dan identitas mereka diam,” ujar M Silalahi, Anggota KPLP Pelabuhan Beton.
Dari handphone Shujaj Hussein, seorang imigran, terdapat tiga kali SMS dari nomor yang sama. Pesan singkat dalam Bahasa Inggris itu berart,”Mudah-mudahan kita akan berhasil di Jakarta.” Namun saat dita-nya kepada pemiliknya, Shujaj Hussein mengaku tidak bisa Berbahasa Inggris.
Hasil pemeriksaan sementara, mereka terpaksa meninggalkan Afganistan untuk mencari suaka ke United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Jakarta. Penyebabnya, situasi keamanan di Afganistan semakin tidak menentu akibat perang saudara. Namun pihak kepolisian juga menaruh kecurigaan.
Kapolda Kepri Brigjen Dikdik Mulyana Arief Mansur mengatakan, warga asing yang masuk secara ilegal tentunya memiliki maksud yang ilegal juga. “Mereka sudah diproses dan ditangani secara prosedur.
Kalau dibilang curiga tentu saja sebagai polisi kita curiga. Ini menyangkut keamanan negara juga,” kata Kapolda.
Belum diperoleh kepastian apakah mereka terlibat dalam jaringan teroris. Kepolisian mesti harus mencocokkan lagi dengan data yang ada.
“Tugas kita adalah mengembangkan data-data hasil tangkapan WNA ini. Jika memang ada yang seperti nama sama atau identitas diri yang dicurigai, kita akan langsung bertindak,” ujar Dikdik.
Para imigran itu kini berada di Rumah Detensi Imigrasi Batam untuk penyidikan. Sabar, seorang imigran mengatakan, mereka ke Indonesa untuk mencari suaka politik di UNHCR di Jakarta.
“Kami ingin hidup damai, kami tidak ingin hidup di tengah pertikaian. We wanna live in peace,” ujarnya.
Dari Afganistan, para imi-gran ini tidak berangkat bersama-sama. Mereka kemudian bertemu di Malaysia. Dari Malaysia, mereka menggunakan kapal kayu menuju Batam. Se-tibanya di Batam, para imigran sempat menginap dua hari di rumah warga. Namun sejauh ini belum diperoleh kepastian siapa yang menampung mereka.
Imigran terbanyak
Direktorat Jendral Imigrasi Basyir Ahmad Barmawi mengatakan, imgiran gelap ke Indonesia yang terbanyak dari Afganistan. Suasana negara yang sedang berkecamuk ini membuat banyak warganya memilih Indonesia sebagai tempat pelarian.
Oleh karena itu, pihaknya beserta unsur terkait seperti depatemen luar negeri terus berkoordinasi mengenai kasus tersebut.
“Penanganannya juga ma-sih dikordinasikan dengan pihak terkait lainnya,” ujarnya usai menghadiri serah terima Sertifikat ISO 9001-2008 di kantor Imigrasi Kelas I Batam, Batam Centre, Rabu (8/4).
Dari beberapa kasus penangkapan imigran gelap, rata-rata mereka singgah di Batam. Seperti yang terjadi di Jambi dan Pekanbaru. Imigran gelap ini sempat singgah di Batam setelah berhasil lolos dari Malaysia.
Setelah Afganistan, imigran Pakistan menempati posisi kedua. Ia menjelaskan, pihaknya telah melakukan upaya maksimal untuk pengamanan di pos imigrasi. Saat ini terda-pat 79 pos lintas batas dengan 13 rumah detensi imigrasi.
“Kami akan terus melakukan pembenahan guna dari waktu ke waktu dengan berkordinasi pada berbagai pihak terkait,” ujarnya.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam Dirman Sukardi segera menindaklanjuti penangkapan imigran gelap asal Afganistan. “Kita belum bisa memutuskan pasti, apa motif kedatangan mereka,” jelasnya ketika dihubungi.
Dirman juga belum bisa memutuskan bagaimana tindak lanjutnya nanti. Karena sebelumnya, kata dia, harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. “Kita cek dululah data-data dan identitas mereka. Apakah paspornya ada atau tidak, baru ditarik kesimpulan,” tegas Dirman.
Sebelumnya petugas Imigrasi Hang Nadim berhasil menangkap tiga warga negara asing, Kamis (2/4).
Ketiga orang itu adalah Paraman Ramesh dengan paspor nomor E3726785 s.d 090912 warga negara India. Somu Baskanan dengan paspor nomor E 8702509 warga negara India dan Narayanasamy Gumaretnam paspor nomor 099048410 warga negara Inggris.(bur/ded/hdr/man)