MARDALENA terlihat sibuk saat melayani beberapa tamu yang datang silih berganti. Ibu tiga anak ini kesana-kemari untuk mengenalkan produk khas Kepri tersebut kepada tamu di Hotel Novotel Batam, Rabu (18/3).
Terhitung sudah hari ke enam Mardalena melayani tamu di Hotel tersebut, dan hari ini (kemarin) adalah hari terakhir pameran. Puluhan produk yang terpajang rata-rata terbuat dari kulit kerang yang dikombinasikan dengan perak, besi dan kayu. Hasil racikan tangan tersebut menghasilkan produk yang memiliki seni, keunikan dan keindahan cukup tinggi.
Sebut saja satu di antaranya lampu lantai. Seluruh penyangga dihiasi berbagai jenis kerang yang terlihat melekat indah dan kuat pada rona kayu dan besi berwarna coklat.
Kesan romantis serta karya seni yang tinggi timbul seketika itu juga saat memandangi hasil karya para pengrajin Kepri ini. Selain itu, produk kerajinan lain yang dipamerkan juga ada kerajinan berupa asbak, hiasan dinding, tempat pulpen, tempat koran, tempat tissu, katok, partisi, dan sebagainya.
Seluruh bahan, tenaga perajin maupun motif langsung dari Pulau Ngenang dan warga Kepri.”Hasil kerajinan kerang ini kami buat di Workshop Engku Hamidah Tanjungpinang bersama 15 perajin lainnya,” ungkap wanita yang tinggal di Pulau Ngenang, Kecamatan Nongsa ini.
Para perajin berhasil mengubah kerang yang merupakan limbah laut menjadi cinderamata berkualitas. Hal ini tentu menjadi penarik bagi wisatawan untuk datang ke Batam.
Berbagai jenis kerang yang digunakan seperti kerang macan, rangau, unam, gonggong, keong, dakon, shinping dan puluhan jenis kerang lainnya. Kerang-kerang tersebut ada yang dipasang secara bergantungan menghiasi media perak, kayu dan besi yang tergantung rapi dan ada juga yang langsung direkatkan pada media.
“Untuk jenis kerajinan dengan cara digantung, kami menggunakan bahan kawat. Sedang untuk kerang yang melekat seperti pada lampu lantai, kami menggunakan perekat lem, serta kawat sebagai pengikat. Dengan sedikit lebih teliti dalam pengerjaannya, kami menjamin kualitas dan kekuatan kerajinan ini sangat baik,” ujarnya.
Sedang untuk harga, kata Mardalena, cukup bervariasi di mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 3,5 juta. Semakin mahal harga kerajinan, tentu semakin indah dan rumit pembuatannya.
Turis mancanegara yang gemar memborong yakni dari Malaysia, Singapura, Korea, bahkan Kanada.”Wah, luar biasa, Mas. Kami benar-benar tidak menyangka kalau kerajinan ini mampu menyedot perhatian konsumen hingga stok kami habis-habisan,” terang wanita berjilbab ini.
Staf Manajemen Pusat kerajinan Engku Hamidah Nuri Cahyono berharap agar kerajinan khas Kepri ini dapat berkembang lebih baik lagi. “Ini merupakan kerajinan perdana dari 15 pengrajin di workshop Engku Hamidah. Nantinya mereka akan dikembalikan ke daerah untuk membuat centra perajin,” ujar Nuri.(hdr)